Baksos Cikalongwetan

Alhamdulillah,,untuk kesekian kalinya,tim akupunkture ITB menyelenggarakan baksos lagi. Baksos ini terselenggara atas permintaan desa Mandalawangi, Kec. Cikalongwetan. Permintaan baksos yang tiada henti membuktikan antusiasme masyarakat yang besar terhadap upaya peningkatan kualitas kesehatan dan membuktikan adanya kontribusi akupunkture dalam peningkatan kualitas kesehatan tersebut.

Baksos Cikalongwetan diselenggarakan 3 kali dengan frekuensi satu kali perminggu. Tingginya jumlah masyarakat yang berobat pada minggu pertama menunjukkan antusiasme yang besar terhadap pengobatan sosial akupunkture. Jumlah masyarakat yang berobat sekitar 130 orang.

Pada akhir pengobatan diadakan evaluasi. Kepala desa dan warga kader desa menyebutkan bahwa akupunkture membantu proses penyembuhan dari penyakit yang diderita warga. contohnya pa Atep, salah satu kader desa yang menderita kelumpuhan, merasakan ada perbaikan kondisi tubuh, yakni tubuh merasa nyaman, enak makan dan kondisi tubuh kuat. Pada umumnya, warga merasakan hal yang sama yakni kondisi tubuh membaik. Semoga dengan akupunkture dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Leave a comment »

Baksos BMG

Baksos kedua

Akupuntur tidak cukup satu kali untuk mempengaruhi metabolisme tubuh agar tubuh menuju keadaan homeostasisnya. untuk itu, baksos kedua dilaksanakan sebagai follow up pasien akupunktur pada baksos pertama. Tim yang berangkat adalah tim CBHC, dengan penanggungjawab kegiatan Drs. Gunawan.

walaupun hanya akupunktur, masyarakat antusias untuk berobat, rata-rata mereka adalah pasien yang lalu, dan ingin berobat kembali karena telah merasakan manfaatnya. ketika saya tanyai, mereka senang dengan kegiatan baksos seperti ini dan berharap untuk ke depannya tetap diadakan.  pada baksos kali ini, walaupun sebetulnya peralatan tidak selengkap baksos pertama, namun ada saja tindakan operasi darurat, lagi-lagi dr.Fenty yang semangat melakukannya. Subhanallah..

rekan2 cbhc

Semoga dengan kegiatan baksos ini, menuju ke arah kemandirian kesehatan masyarakat..:)

Leave a comment »

Baksos BMG

Baksos Pertama

Ds. Cipelah

Dalam rangka menuju kemandirian kesehatan masyarakat, CBHC mengadakan baksos kesehatan di Desa Cipelah, Rancabali..tanggal 03 Agustus 2008 . Pertama kali kegiatan baksos ini diadakan, baksos diselenggarakan secara konvensional medis dan akupunktur.

Prof. Andreanus membuka kegiatan baksos dengan memberikan arahan singkat pada warga menuju kemandirian kesehatan masyarakat, namun Prof. Andreanus juga memberikan keyakinan pada warga untuk tidak takut berobat dengan akupunktur. Akupunktur bisa dibilang baru memasuki daerah itu, sehingga tidak sedikit warga yang masih takut.

Desa cipelah termasuk dalam desa terpencil, menghabiskan waktu 3 jam perjalanan dari BMG ITB hingga ke lokasi. Dengan kondisi seperti itu, wajar masyarakat disana jarang berobat ke kota, selain jauh sekali, biaya transportasi juga mahal sekali (kata warga disana). Penyakit warga terlihat sudah lama dan tidak diobati. Beberapa kasus ditangani dengan operasi darurat oleh dokter2 BMG, dr. Fenty terlihat begitu semangat membedahnya :) . Kegiatan baksos pertama berjalan lancar dan melelahkan. Tercatat jumlah pasien hingga 360 orang, 260 berobat dengan medis dan 100 dengan akupunktur.

Leave a comment »

Baksos Cisarua

Berawal dari testimoni beberapa pasien dari cisarua yang terapi akupunktur ke Arcamanik, dan setelah di follow up hingga ke kepala desa, maka kegiatan baksos akupunktur dapat terselenggara.

Target utama dari kegiatan ini adalah memberikan pelayanan akupunktur dan informasi kesehatan bagi masyarakat cisarua, khususnya masyarakat desa kertawangi. Baksos diselenggarakan 3 kali dengan frekuensi per minggu, yakni pada 26 April, 03 Mei dan 10 Mei 2009.

Desa kertawangi terletak di Bandung barat, antara parongpong dan cimahi. Waktu tempuh dari Bandung via parongpong sekitar 30-45 menit, sementara via simpang tiga lembang sekitar 45-60 menit.

Hari I baksos dimulai dengan  sambutan dari Bpk kepala desa Kertawangi, Bpk Sobandi Suryasasmita, S.IP, kemudia dilanjutkan dengan sambutan dari ketua divisi herbal dan akupunktur, Prof. Andreanus . Setelah itu pengarahan tentang herbal oleh ibu Ina dan dilanjutkan pengarahan akupunktur oleh dr. fanty.

Hari I baksos, hanya didatangi oleh sekitar 48 warga yang membutuhkan terapi. Penyakit yang diderita warga bervariasi dari penyakit ringan seperti pegel2 kaki hingga ke struk. Namun, tim akupunktur ITB dapat memberikan pelayanan yang optimal bagi masyarakat. Semua keluhan warga kami catat dalam status pasien secara lengkap, mulai dari keluhan utama, keluhan tambahan, titik terapi dan waktu terapi. Sedikitnya warga yang berobat, menurut pa Kades semoga memang hanya sedikit warga yang sakit, sementara yang lainnya sehat. Namun berdasarkan wawancara dengan warga, banyak warga yang masih mau datang berobat, namun tidak memilik kartu berobat. Karena hal ini bukan halangan, semoga ke depan, akan lebih banyak lagi warga yang bisa dilayani.
Tetap semangat tim akupunktur ITB!

Leave a comment »

Baksos Medika dengan KODAM III/Siliwangi

Kegiatan  pengobatan sosial akupunktur kali ini bekerjasama dengan KODAM III/Siliwangi dalam rangka TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) wilayah KODIM 0619 Purwakarta,, Baksos di adakan setiap minggu selama bulan oktober 2008, yakni pada tanggal 12, 19 dan 26 Oktober 2008.
Minggu, tanggal 05 Oktober 2008, bertempat di kantor kecamatan Kiarapedes, hadir perwakilan dari 10 desa, yakni 50 orang. Hari minggu itu sebetulnya hanya sosialisasi, namun antusiasme masyarakat begitu besar, sehingga 70% para pejabat Desa, kecamatan termasuk Kapten KODIM turut merasakan akupunktur..

Sepulang sosialisasi,,saya, pa Syam, pa Suma, pa Abimanyu dan dr. Fenty kelaparan,,kemudian sibuk mencari rumah makan enak di sekitar Pasawahan atau Purwakarta..Tapi kami tidak menemukan rumah makan, dengan nada kecewa, pa Syam, bertanya..’Ida, rumah makan mana yang enak dsini?’ lalu saya jawab, ‘Ga tau pak”,,kemudian pa Syam’ loh ko???!!bukankah ida orang Pwk, masa ga tau?!..kemudian saya cuma teringat,,,Oh rumah makan Ciganea…Tapi yang depan pintu tol ciganea itu sepertinya tidak terlalu enak..iya karena itu bukan ibu ciganea yang asli,,Ibu Haji ciganea asli letaknya 3 Km dari pintu tol ciganea,,,Ok,,akhirnya kami menuju kesana..

Makan lahap, enak, kenyang,,sambelnya mantap..Ini memang masakan Ibu Haji Ciganea, berbeda dengan Ibu Ciganea ,,yang konon itu adalah anaknya ibu Haji Ciganea, terpisah karena pertentangan..ah ga penting..

Yang penting adalah,,,saya tertidur pulas sepulang dari Ciganea smp2 ga inget harus berhenti depan gedung Anex..kesimpulannya adalah ‘Akupunktur manjur bagi penusuk juga’ buktinya setelah menusuk2,saya tertidur pulas..hehe

Minggu pertama Baksos,,tercatat masyarakat yang berobat sekitar kurang lebih 100 orang, begitu pula dengan baksos kedua dan ketiga. Kantor Kecamatan Kiarapedes letaknya jauh dari rumah warga, bahkan warga yang berobat harus mengeluarkan ongkos sebesar Rp 20.000,- yang ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 0,5-1 jam perjalanan. Walaupun demikian, antusiasme warga sangat besar, dengan kendala seperti itu, selama periode 3 kali baksos, warga tetap datang berobat.

Leave a comment »

Div. herbal dan akupunktur

Awal mulanya berdiri div. herbal dan akupunktur di bawah PTKK ITB tidak lepas dari sasaran-sasaran ITB, antara lain:

1. Pendidikan

2. Penelitian

3. Pengabdian Masyarakat

PTKK sebagai Pusat Teknologi Keolahragaan dan Kesehatan ITB sudah lama diinisiasi sekitar tahun 2003/2004, namun baru diresmikan tahun 2007.

Ada tiga divisi PTKK:

1. div. Keolahragaan

2. div. Biomedik

3. div. akupunktur dan herbal, (sebelumnya bernama div. pengobatan tradisional)

visi misi div. herbal dan akupunktur fokus pada pengembangan rasionalitas akupunkture, sehingga muncul 3 bidang:

1. Pengabdian Masyarakat

2. Penelitian

3. Pelatihan

Bumi Medika Ganesa menjadi tempat pelayanan kegiatan sosial akupunktur. Kegiatan lain diluar BMG adalah kegiatan bakti sosial akupunktur dan penelitian.

Tujuan dari dibentuknya div. herbal dan akupunktur adalah:

1. rasionalisasi

2. pelayanan kesehatan yang prima

termasuk disini adalah pelayanan informasi kesehatan

kunci dalam pengobatan adalah pelayanan,,para akupunkturis adalah pelayan bagi majikan (dalam hal ini pasien), sehingga harus memberikan pelayanan yang prima, tidak sombong, tapi tidak pula merendah, tidak sok tahu tapi punya karakter yang mudah dikoreksi.

3. Pemberdayaan masyarakat

melalui pelatihan akupunktur basis masyarakat diharapkan tumbuh kesadaran masyarakat sehingga tercipta keswadayaan masyarakat, upaya ini didukung oleh pengembangan etnobotani atau entofarmakologi basis masyarakat

Leave a comment »

Hasil optimasi

Optimasi medium modifikasi dilakukan untuk mengetahui kerja bakteri besi dalam menghasilkan nilai tegangan listrik yang optimum dengan pertimbangan  bahwa medium modifikasi lebih mudah didapat (melimpah), murah dan merupakan sumber bagi bakteri litotrof besi. Medium yang diuji adalah tanah jatinangor dan lumpur sidoarjo ditambah dengan substrat besi dan urea (sesuai dengan rasio C/N pada medium basalt). Optimasi diperlakukan sama seperti perlakuan pada medium basalt, yakni inokulasi bakteri per 2 hari pada medium berturut2 10 ml-150 ml-500 ml. Perlakuan optimasi dilakukan duplo. Parameter yang dioptimasi adalah pH +- 1 dan inokulum 5%, 10% dan 15%. Parameter yang diukur adalah nilai tegangan listrik dan pH akhir.

Dari hasil optimasi ini, didapat bahwa range nilai tegangan listrik pada substrat lumpur sidoarjo antara 300-600 mV. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan nilai tegangan listrik optimasi medium awal dengan nilai maksimum 350mV. Nilai tegangan listrik tertinggi, yakni 575 mV didapat pada medium dengan pH 7 dan 15% inokulum.  Sementara nilai tegangan listrik pada substrat tanah jatinangor berkisar antara 175-300 mV. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai tengangan listrik optimasi medium awal dengan nilai maksimum 350 mV. Sehingga dari hasil optimasi ini, dipilih substrat lumpur sidoarjo dengan pH 7 dan 15% inokulum untuk tahapan selanjutnya.

Leave a comment »

Metode Ukur Fe dalam kultur

Metode pengukuran Fe dalam kultur (anoda):

1. Metode calorimetri

pada prinsipnya, ferro dioksidasi oleh air brom (Br2) dalam suasana asam dan panas membentuk Ferik. Dengan penambahan KCNS, terbentuk senyawa Fe(CNS)3 berwarna merah. Warna merah yang terjadi dibandingkan dengan standar.

Pereaksi-pereaksi yang dibutuhkan untuk pengerjaan ini antara lain:

a. larutan standar Fe (1 ml= 0,1 mg)

diperlukan 0,7022 gr FAS yang dilarutkan dalam aquadest kemudian ditambahkan 25 ml H2SO4 pekat dan encerkan dengan aquadest.

b. larutan H2SO4 4 N

111 ml H2So4 pekat diencerkan dengan aquadest hingga mencapai volume 1 L

c. larutan air brom

10 ml air brom diencerkan dengan aquadest sampai volume mencapai 500 ml

d. larutan KCNS 20%

200 gr KCNS dilarutkan dan diencerkan dengan aquadest hingga mencapai volume 1 L

Cara kerja:

50 ml sampel dimasukkan dalam labu erlenmeyer, ditambahkan 2,5 ml H2SO4 dan 3-5 tetes air brom. didihkan hingga bau air brom hilang, lalu dinginkan, kemudian ditambah larutan KCNS 20 % sebanyak 1-2 ml. Siapkan blanko berisi aquadest dan diperlakukan sama seperti sampel.

Siapkan larutan standar besi. 5 tabung Nessler diisi 45 ml aquadest, 2,5 ml H2SO4 dan larutan standar Fe secara bertingkat mulai dari 0,05 ml, 0,1 ml, 0,15 ml, 0,2 ml, dan 0,25 ml.

perhitungannya: 1000/50 x ml standar besi x 0,1 =…mg/l

2. Metode Phenanthroline

Pada prinsipnya, besi dalam larutan (kultur mikroba besi), direduksi menjadi besi II melalui pendidihan dengan asam dan hidroksilamin, dan ditambahkan 1,10-phenanthroline pada pH 3,2-3,3. Tiga molekul phenanthroline mengchelat ion besi II membentuk kompleks berwarna merah-orange.

pereaksi-pereaksi yang dibutuhkan untuk pengerjaan metode ini antara lain:

a. HCl pekat

b. larutan hidroksilamin

larutkan 10 gr NH2OH.HCl dalam 100 ml air

c. larutan Natrium acetat

larutkan 200 gr NaC2H3O2.3H2O dalam 800 ml air

d. larutan phenanthroline

larutkan 100 mg 1,10-phenanthroline monohidrate dalam 100 ml, aduk dan panaskan hingga 80 C

e. larutan standar besi

tambahkan 20 ml H2SO4 pekat ke dalam 50 ml air dan larutkan 1,404 dr FAS. teteskan KMnO4 0,1 N hingga larutan berwarna pink, encerkan hingga 1000 ml. 1 ml= 200 mikrogr.

Cara kerja:

50 sampel ditambahkan 2 ml HCl pekat, 1 ml larutan hidroksilamin. ditambahkan beberapa batu didih, panaskan hingga mendidih dan mencapai volume 15-20 ml. dinginkan pada suhu kamar, pindahkan pada tabung Nessler 50 ml. tambahkan 10 ml larutan buffer natrium acetat dan 4 ml phenantroline, encerkan. aduk larutan, diamkan hingga 10-15 menit. ukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 510 nm. Bandingkan dengan kurva kalibrasi.

*ukuran volume di atas dapat dikonversi sesuai dengan volume sampel, metode Phenantroline telah dipilih untuk digunakan dalam pengukuran sekarang karena kemudahan memperoleh pereaksi dan dari segi keamanan lebih terjamin, namun ada satu step yang harus ditiadakan karena larutan besi dalam kultur, ferro, maka ferro akan dengan mudah dichelat oleh molekul phenantroline. Reaksi yang terjadi dalam anoda adalah oksidasi dari ferro menjadi ferrik, maka dalam 1o kali sampling per 12 jam selama 5 hari, akan terjadi penurunan kadar ferro dalam kultur karena sebagian atau semua ferro telah dioksidasi menjadi ferrik*

Leave a comment »

akhir ta ini

Saat ini,,memasuki massa akhir..tahap satu lagi,,atau masih banyak tahap..mencari medium modifikasi bagi kultur bakteri hingga menghasilkan tegangan listrik yang tinggi. Satu tahap yang sudah dijalani,,yakni menggunakan katoda yang baru, PAC dan NaClO, hasilnya baik, kultur bakteri dalam medium lumpur sidoarjo plus besi dilakukan dengan katoda ini menghasilkan nilai tegangan paling besar..dari hasil optimasi ini didapat persen inokulum 10% dengan pH 7,5 dengan nilai tegangan listrik 950 mV..sungguh nilai yang luar biasa dikala saya coba temukan cara dan metode lain untuk mendapatkan nilai tegangan sebesar itu dengan katoda yang biasa digunakan K2HPO4 dan K3[Fe(CN)6].

Namun sayang hasil kerja kerasku..tidak bisa diajukan dalam data thesisku karena bukan bagiannya untuk saat ini..terlalu melangkah lebih jauh untuk optimasi katoda sementara seharusnya kajian itu dilakukan  oleh yang lain.

sehingga akhirnya tetap menggunakan katoda lama dengan nilai yang tidak terlalu tinggi..mengakhiri tugas akhir beberapa tahap lagi, scale up dalam 1 L medium kultur, pengukuran aktivitas enzim, plating dan pengukuran kadar besi dalam kultur. Apapun hasilnya, mudah2n bisa djadikan referensi yang baik untuk peneliti selanjutnya.

Leave a comment »

fenomena menarik

setelah di amati,,berbagai cara dilakukan,,ternyata bakteri bacillus itu menarik..Paling mudah di amati dari bentuknya yang basil,jika dilihat dari preparat kering setelah dilakukan pewarnaan gram,,maka akan terlihat basil yang utuh, menunjukkan dengan jelas gram negatif..berbeda dengan hasil pengamatan di preparat basah, bakteri basil begitu motil, bergerak di seluruh preparat, berotasi pada titiknya, dan bergerak ke segala arah.Gerakan motil ini menjadi kendala ketika akan melakukan enumerasi, sehingga perlu ada cara lain agar bisa menghitung sel basil tersebut. Tinta cina menjadi salah satu solusi yang dapat menjadikan fokus basil yang akan di amati. Dengan tinta cina, basil ini terlihat jelas, bening, sementara lingkungan sekitarnya blur berwarna hitam, namun ternyata dengan tinta cina, di preparat banyak terlihat pengotor, basil masih terlihat motil dan TBUD. Sehingga akhirnya cara yang paling jitu, coba berulang2 hingga bisa melakukan enumerasi:)

Comments (1) »