Metode pengukuran Fe dalam kultur (anoda):
1. Metode calorimetri
pada prinsipnya, ferro dioksidasi oleh air brom (Br2) dalam suasana asam dan panas membentuk Ferik. Dengan penambahan KCNS, terbentuk senyawa Fe(CNS)3 berwarna merah. Warna merah yang terjadi dibandingkan dengan standar.
Pereaksi-pereaksi yang dibutuhkan untuk pengerjaan ini antara lain:
a. larutan standar Fe (1 ml= 0,1 mg)
diperlukan 0,7022 gr FAS yang dilarutkan dalam aquadest kemudian ditambahkan 25 ml H2SO4 pekat dan encerkan dengan aquadest.
b. larutan H2SO4 4 N
111 ml H2So4 pekat diencerkan dengan aquadest hingga mencapai volume 1 L
c. larutan air brom
10 ml air brom diencerkan dengan aquadest sampai volume mencapai 500 ml
d. larutan KCNS 20%
200 gr KCNS dilarutkan dan diencerkan dengan aquadest hingga mencapai volume 1 L
Cara kerja:
50 ml sampel dimasukkan dalam labu erlenmeyer, ditambahkan 2,5 ml H2SO4 dan 3-5 tetes air brom. didihkan hingga bau air brom hilang, lalu dinginkan, kemudian ditambah larutan KCNS 20 % sebanyak 1-2 ml. Siapkan blanko berisi aquadest dan diperlakukan sama seperti sampel.
Siapkan larutan standar besi. 5 tabung Nessler diisi 45 ml aquadest, 2,5 ml H2SO4 dan larutan standar Fe secara bertingkat mulai dari 0,05 ml, 0,1 ml, 0,15 ml, 0,2 ml, dan 0,25 ml.
perhitungannya: 1000/50 x ml standar besi x 0,1 =…mg/l
2. Metode Phenanthroline
Pada prinsipnya, besi dalam larutan (kultur mikroba besi), direduksi menjadi besi II melalui pendidihan dengan asam dan hidroksilamin, dan ditambahkan 1,10-phenanthroline pada pH 3,2-3,3. Tiga molekul phenanthroline mengchelat ion besi II membentuk kompleks berwarna merah-orange.
pereaksi-pereaksi yang dibutuhkan untuk pengerjaan metode ini antara lain:
a. HCl pekat
b. larutan hidroksilamin
larutkan 10 gr NH2OH.HCl dalam 100 ml air
c. larutan Natrium acetat
larutkan 200 gr NaC2H3O2.3H2O dalam 800 ml air
d. larutan phenanthroline
larutkan 100 mg 1,10-phenanthroline monohidrate dalam 100 ml, aduk dan panaskan hingga 80 C
e. larutan standar besi
tambahkan 20 ml H2SO4 pekat ke dalam 50 ml air dan larutkan 1,404 dr FAS. teteskan KMnO4 0,1 N hingga larutan berwarna pink, encerkan hingga 1000 ml. 1 ml= 200 mikrogr.
Cara kerja:
50 sampel ditambahkan 2 ml HCl pekat, 1 ml larutan hidroksilamin. ditambahkan beberapa batu didih, panaskan hingga mendidih dan mencapai volume 15-20 ml. dinginkan pada suhu kamar, pindahkan pada tabung Nessler 50 ml. tambahkan 10 ml larutan buffer natrium acetat dan 4 ml phenantroline, encerkan. aduk larutan, diamkan hingga 10-15 menit. ukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 510 nm. Bandingkan dengan kurva kalibrasi.
*ukuran volume di atas dapat dikonversi sesuai dengan volume sampel, metode Phenantroline telah dipilih untuk digunakan dalam pengukuran sekarang karena kemudahan memperoleh pereaksi dan dari segi keamanan lebih terjamin, namun ada satu step yang harus ditiadakan karena larutan besi dalam kultur, ferro, maka ferro akan dengan mudah dichelat oleh molekul phenantroline. Reaksi yang terjadi dalam anoda adalah oksidasi dari ferro menjadi ferrik, maka dalam 1o kali sampling per 12 jam selama 5 hari, akan terjadi penurunan kadar ferro dalam kultur karena sebagian atau semua ferro telah dioksidasi menjadi ferrik*